Senin, 23 November 2009

jeng yani

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sebagaimana diketahui secara umum Kota Malang merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa Timur karena potensi alam dan iklim yang dimiliki. Letaknya yang berada ditengah-tengah wilayah Kabupaten Malang secara astronomis terletak pada posisi 112.06o – 112.07o Bujur Timur ,7.06o – 8.02o Lintang Selatan dengan batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara : Kec. Singosari dan Kec. Karangploso Kab.Malang, Sebelah Timur : Kec. Pakis dan Kec. Tumpang Kab Malang, Sebelah Selatan: Kec. Tajinan dan Kec. Pakisaji Kab. Malang Sebelah Barat : Kec. Wagir dan
Kec. Dau Kab Malang.
Luas wilayah Kota Malang sebesar 110,06 km2 yang terbagi dalam lima kecamatan yaitu Kecamatan Kedungkandang, Sukun, Klojen, Blimbing dan Lowokwaru. Potensi alam yang dimiliki Kota Malang adalah letaknya yang cukup tinggi yaitu 440 – 667 meter di atas permukaan air laut. Salah satu lokasi yang paling tinggi adalah Pegunungan Buring yang terletak disebelah timur Kota Malang. Dari atas pegunungan ini terlihat jelas pemandangan yang indah antara lain dari arah Barat terlihat barisan Gunung Kawi dan Panderman, sebelah utara Gunung Arjuno, Sebelah Timur Gunung Semeru dan jika melihat kebawah terlihat hamparan Kota Malang. Sedangkan sungai yang mengalir di Wilayah Kota Malang adalah Sungai Brantas, Amprong dan Bango.
Dari lima kecamatan yang ada terbagi atas 57 kelurahan. Berdasarkan klasifikasi dari kemampuan kelurahan dalam membangun wilayahnya tercatat seluruh kelurahan masuk ke dalam kategori kelurahan Swa Sembada. Artinya hampir seluruh kelurahan yang ada telah mampu menyelenggarakan pemerintahannya dengan mandiri.
Data kependudukan sangat diperlukan dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan karena penduduk merupakan subyek dan sekaligus sebagai obyek pembangunan. Data penduduk dapat diperoleh melalui beberapa cara yaitu melalui Sensus Penduduk, Registrasi Penduduk, dan Surveisurvei kependudukan. Menurut hasil Proyeksi Penduduk pada tahun 2007 ( Tabel 3.1.5) penduduk Kota Malang sebanyak 816.444 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 407.959 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 408.485 jiwa. Dengan demikian rasio jenis kelamin penduduk Kota Malang sebesar 99,87. Ini artinya bahwa setiap 100 penduduk perempuan terdapat 99 penduduk laki-laki. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2000, pada periode 1990–2000 rata-rata laju pertumbuhan penduduk setiap tahunnya adalah 0,86 %.
Banyak sektor-sektor yang dapat dilihat di kota Malang tersebut, diantaranya adalah sektor pertanian, industri, perdagangan, pariwisata dan lain sebagainya. Dari hasil kegiatan pertanian tanaman padi total luas panen selama tahun 2007 seluas 2.123 Ha dengan produksi 14.277,02 ton. Untuk produksi tanaman palawija antara lain Jagung sebesar 873,10 ton; ubi kayu 2.942,81 ton; dan ubi jalar 166,37 ton.
Industri dengan potensi yang cukup untuk dikembangkan kota Malang adalah industri keramik, mebel, gerabah merah, kerimpik tempe, kerajinan rotan, dan industri sanitair. Dari semua enam macam barang komoditi, yang dapat menjangkau pasar ekspor adalah industri mebel, keramik dan rotan. Industri mebel kebanyakan dijual kepada Negara-negara Eropa (Perancis, Inggris, Jerman), Amerika, Jepang, Singapura. Barang - barang dari rotan adalah (tempat tidur, kursi tamu, kursi letter L) yang kebanyakan dijual ke negara Australia, Perancis, Libanon dan Jepang.
Keberadaan dari industri-industri kecil, kerajinan tangan dan industri rumah tangga lain hanyalah untuk pasar regional dan lokal. Kemungkinan untuk mengembangkan dan mempromosikan ke level medium dan besar-besaran, tergantung pada peran dari jasa perbankan.
Perkembangan setiap sector-sektor di kota Malang ini sangat terkoordinir dan efisien dalam implemetasinya. Makalah ini akan berusaha menjelaskan model pembangunan dan strategi pembangunan Kota Malang dengan melihat dari potensi, maupun hambatan-hambatan dalam pembangunan.
B.Tujuan Penyusunan Laporan Penelitian
1.Mengetahui gambaran umum daerah Kota Malang
2.Mengetahui potensi dan permasalahan yang dihadapi Kota Malang
3.Mengetahui strategi pembangunan daerah Kota Malang

C.Manfaat Penyusunan Laporan Penelitian
1.Bagi Pemerintah
Sebagai acuan pemerintah dalam rangka menjalankan program pembangunan dengan melihat potensi, hambatan, dan peluang ketercapaiannnya.
2.Bagi Peneliti
Mengetahui gambaran umum, potensi, hambatan, dan strategi pembagunan yang dilaksanakan di Kota Malang.
3.Bagi Masyarakat
Mengetahui bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di wilayah Kota Malang guna meningkatkan kesejahteraan sosial.


BAB II
DESKRIPSI POTENSI DAERAH
A.DEMOGRAFI
1.Keadaan Geografis Kabupaten Malang
Secara umum Kota Malang merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa Timur karena potensi alam dan iklim yang dimiliki. Letaknya yang berada ditengah-tengah wilayah Kabupaten Malang secara astronomis terletak pada posisi 112.06o – 112.07o Bujur Timur ,7.06o – 8.02o Lintang Selatan dengan batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara : Kec. Singosari dan Kec. Karangploso Kab.Malang, Sebelah Timur : Kec. Pakis dan Kec. Tumpang Kab Malang, Sebelah Selatan: Kec. Tajinan dan Kec. Pakisaji Kab. Malang Sebelah Barat : Kec. Wagir dan Kec. Dau Kab Malang.
Potensi alam yang dimiliki Kota Malang adalah letaknya yang cukup tinggi yaitu 440 – 667 meter di atas permukaan air laut. Salah satu lokasi yang paling tinggi adalah Pegunungan Buring yang terletak disebelah timur Kota Malang. Dari atas pegunungan ini terlihat jelas pemandangan yang indah antara lain dari arah Barat terlihat barisan Gunung Kawi dan Panderman, sebelah utara Gunung Arjuno, Sebelah Timur Gunung Semeru dan jika melihat kebawah terlihat hamparan Kota Malang. Sedangkan sungai yang mengalir di Wilayah Kota Malang adalah Sungai Brantas, Amprong dan Bango.
2.Iklim
Kondisi iklim Kota Malang selama tahun 2007 tercatat rata-rata suhu udara berkisar antara 22,9oC sampai 24,1oC. Sedangkan suhu maksimum mencapai 31,8oC dan suhu minimum 19,0oC. Rata-rata kelembaban udara berkisar 79% - 85%, dengan kelembaban maksimum 99% dan minimum mencapai 37%.
Seperti umumnya daerah lain di Indonesia, Kota Malang mengikuti perubahan putaran 2 iklim, musim hujan dan musim kemarau. Dari hasil pengamatan Stasiun Klimatologi Karangploso Curah hujan yang relatif tinggi terjadi pada bulan Pebruari, Maret, dan April. Sedangkan pada bulan Juni dan September curah hujan relatif rendah. Kecepatan angina maksimum terjadi di bulan Agustus, September dan Juni.
3.penduduk
Kota Malang terdiri atas 5 (lima) kecamatan yang terbagi atas 57
kelurahan, 528 RW, dan 3920 unit RT. Menurut hasil proyeksi pada tahun
2007, penduduk Kota Malang sebanyak 805.860 jiwa (pada malam hari
dan ± 1 (satu) juta jiwa pada siang hari) yang memiliki komposisi
penduduk laki-laki sebanyak 400.873 jiwa dan penduduk perempuan
sebanyak 404.987 jiwa dan Tingkat kepadatan penduduk Kota Malang
rata-rata mencapai 7.120 jiwa per Km2 sedangkan Tingkat kepadatan
penduduk tertinggi berada di Kecamatan Klojen yang mencapai 11.770
jiwa per Km2, tingkat kepadatan penduduk terendah berada di Kecamatan Kedungkandang yang hanya mencapai 4.450 jiwa per Km2.
Dengan laju pertumbuhan penduduk mencapai 0,80% per tahun,
Kota Malang menjadi Daerah hunian yang semakin padat ditambah oleh
pembangunan perumahan dan permukiman baru di wilayah pinggiran
kota dan pertumbuhan kawasan perdagangan formal maupun informal
yang semakin marak disamping munculnya slum area di beberapa lokasi
permukiman yang telah ada sebelumnya.
B.SEKTOR-SEKTOR
1. PERTANIAN
Dari lima kecamatan yang ada hanya Kecamatan Klojen yang tidak ada kegiatan pertanian lahan sawah, sedangkan yang paling luas lahan pertanian dengan menggunakan lahan sawah ada di Kecamatan Kedungkandang (622.434 Ha). Dari hasil kegiatan pertanian tanaman padi total luas panen selama tahun 2007 seluas 2.123 Ha dengan produksi 14.277,02 ton. Untuk produksi tanaman palawija antara lain Jagung sebesar 873,10 ton; ubi kayu 2.942,81 ton; dan ubi jalar 166,37 ton.
2. perkebunan
Produksi tanaman perkebunan selama tahun 2007 tercantum dalam Tabel 5.1.8. Dari kelima kecamatan yang ada untuk kegiatan tanaman perkebunan didominasi di Kecamatan Kedung kandang, hal ini terlihat dari produksi kelapa sebanyak 78,44 ton; kopi 9,11 ton.

3. peternakan
Untuk kegiatan pemeliharaan ternak dan unggas dapat dilihat pada Tabel 5.1.9 dan 5.1.10. Dari Tabel 5.1.9 terlihat untuk kegiatan pemeliharaan sapi perah paling banyak dilakukan di Kecamatn Kedungkandang (59 ekor); sapi potong terbanyak di Kecamatan Kedungkandang (1.063 ekor) ; Kambing terbanyak di Kec. Kedungkandang (529 ekor).
Data dari Rumah Potong Hewan di Kota Malang sebagaimana terdapat pada tabel 5.2.1 diperoleh gambaran hewan yang dipotong menurut bulan.
4 industri
Berdasarkan banyaknya pekerja, industri pengolahan dikelompokkan menjadi 4 golongan yaitu Industri Besar (jumlah pekerja lebih dari 100 orang), Industri Sedang (jumlah pekerja 20-99 orang), Industri Kecil (jumlah pekerja 5-19 orang), dan Industri Rumahtangga (jumlah pekerja 1-4 orang).
Pengumpulan data perusahaan industri besar dan sedang (B/S) dilakukan setiap tahun dengan cara sensus lengkap. Jumlah perusahaan industri besar dan sedang di Kota Malang tahun 2007 sebanyak 197 perusahaan, terdiri dari 156 perusahaan merupakan industri sedang dan 41 perusahaan industri besar. Bila dilihat menurut lokasinya, sebagian besar perusahaan industri B/S berada di
wilayah Kecamatan Sukun yaitu sebanyak 66 perusahaan. Kemudian di Kecamatan Blimbing sebanyak 56 perusahaan dan sisanya tersebar di tiga kecamatan lainnya seperti terlihat pada tabel 6.1.1.
Dari jumlah perusahaan industri B/S yang ada di Kota Malang, mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 33.262 orang. Sebagian besar perusahaan Industri B/S merupakan Sub sektor industri. Industri pengolahan tembakau menyerap tenaga kerja sebanyak 26.151 orang. Nilai output perusahaan industri B/S pada tahun 2007 sebesar 101.959.417.334 ribu rupiah.
5. perdagangan
Kegiatan ekspor yang tercatat di Dinas Perdagangan, Industri dan Koperasi Kota Malang selama Tahun 2007 senilai 27.808.287,75 US$ dari 9 macam komoditi ke 33 negara (Tabel 7.1.2 dan 7.1.3). Jumlah Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) yang diterbitkan sebanyak 429. Realisasi Impor yang tercatat senilai 251.300.517,54 US$ dari 22 negara ( Tabel 7.1.4 dan 7.1.5 ).
6. hotel
Sebagaimana kita ketahui Kota Malang merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa Timur , kegiatan akomodasi yang menunjang kegiatan tersebut adalah adanya sarana akomodasi. Jumlah Akomodasi yang ada sebanyak 60 hotel dan akomodasi lainnya dengan fasilitas kamar 1.922 kamar dan 2.951 tempat tidur. Dari Kamar yang tersedia untuk hotel berbintang tingkat hunian kamar yang terjual sebesar 33.85 % dan hotel non bintang 21,12 % dengan rata-rata tingkat hunian selama 1,40 -1.95 hari.
6. pariwisata
Di sektor pariwisata, Kota Malang mempunyai banyak keunggulan
yang dapat dibanggakan. Keunggulan pariwisata di Kota Malang memang
tidak terletak pada sumberdaya alam, namun lebih banyak kepada
infrastruktur pariwisata, seperti hotel, restoran, transportasi, sejarah,
travel agen dan perbelanjaan. Sampai saat ini hotel di Kota Malang
berjumlah 60 hotel, yang terdiri dari hotel kelas bintang sebanyak 10
buah, hotel kelas melati sebanyak 39 buah dan bentuk akomodasi lainnya
sebanyak 11 buah. Sedangkan restoran berkembang dengan cukup pesat,
transportasi lancar, jumlah travel agen banyak dan pusat perbelanjaan
tersedia. Disamping itu rumah sakit baik negeri maupun swasta banyak
bermunculan di Kota Malang.
6. perhubungan
a. jalan
Sarana penunjang yang paling penting dalam menunjang segala kegiatan adalah jalan yang ada. Berdasarkan pemerintahan yang mengelola jalan terbagi menjadi 3. Jalan terpanjang adalah jalan Kabupaten 873,26 km, jalan Propinsi 49,32 dan jalan Negara 14,46 km.
b. transportasi
Sarana transportasi darat baik untuk barang maupun untuk penumpang yang ada di Kota Malang cukup beragam jenisnya. Pelayanan angkutan jalan raya khususnya kereta api mengalami peningkatan jumlah penumpang dan barang yang diangkut dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah penumpang yang menggunakan kereta api tahun 2007 sebanyak 837.616 dan barang yang diterima sebesar 12.375.000 ton.
c. pos dan giro
Pembangunan sarana pos dan sarana telekomunikasi serta peningkatan kualitas pelayanannya saat ini dirasakan sudah sangat dibutuhkan untuk memperlancar aktifitas, baik aktifitas pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Tabel 8.6.1 menunjukkan perkembangan pengiriman berita melalui Kantor Pos Malang Selama tahun 2007 jenis pengiriman berita melalui surat biasa sebanyak 960.820 pucuk ; melalui surat kilat sebanyak 60.348 pucuk dan melalui kilat khusus sebanyak 772.065 pucuk. Jasa lain yang dapat dilayani lewat Kantor Pos antara lain pengiriman paket; pelayanan kegiatan lembaga keuangan (penerimaan giro dan tabanas). Dalam tahun 2007 Jumlah paket yang terkirim sebanyak 57.251 buah.; penerimaan giro/cek pos senilai 1.181.277,2 ( Juta Rp) dan penerimaan tabanas senilai 20.938,1 (Juta Rp) dan pengiriman wesel pos senilai 8.865,44 (Juta Rp).
d. telekomunikasi
Jumlah pelanggan telepon di Kota Malang terbanyak adalah pelanggan flexi sebanyak 136.876 diikuti pelanggan rumah tangga 85.850 dan swasta 12.142 (tabel 8.7.1).
8. keuangan dan harga – harga
Gambaran Keuangan Daerah tertuang dalam Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dari sisi Pendapatan terlihat total Pendapatan daerah selama tahun 2007 sebesar Rp 644.755.574.122,46. Sumber pendapatan yang terbagi dalam tiga kelompok. Dari sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) memberikan kontribusi sebesar 87.115.734.710,46 rupiah. .Sedangkan pendapatan yang merupakan Pendapatan Transfer, yaitu Dana Perimbangan (DAU) menberikan kontribusi terbesar yaitu 420.234.685.000 rupiah.
Sedangkan dari sisi Pengeluaran total pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah Kota Malang sebesar 648.747.892.165 rupiah, dimana pengeluaran tersebut terbagi untuk Belanja Operasi sebesar 461.645.273.818 rupiah, Belanja Modal sebesar 148.181.706.215 rupiah, Belanja tak terduga 62.092.331 rupiah dan transfer bagi hasil ke desa sebesar 45.916.200 rupiah.
a.lembaga keuangan
lembaga keuangan yang banyak membantu perekonomian di kota malang adalah lembaga keungan perbank-kan, penggadaian dan koperasi. Jumlah bank umum yang beroperasi di kota Malang pada tahun 2007 sebanyak 35 yang terdiri dari 9 bank pemerintah, 25 bank swasta dan 1 Bank Pemerintah Daerah. Dari kegiatan perbankan tercatat total aset yang tersedia sampai dengan Desember 2007 sebesar 13.772.949 juta rupiah.
Salah satu kegiatan lembaga keuangan selain bank antara lain kegiatan Pegadaian di kota Malang tersebar di 6 Kantor Cabang. Dari kegiatan tersebut selama tahun 2007 terlihat jumlah kredit yang dijaminkan sebanyak 220.753 unit dengan nilai kredit sebesar 214.860 juta rupiah. Sedangkan pelunasan yang terjadi sebanyak 213.433 unit dengan nilai jaminan sebesar 200.648 juta rupiah. Kegiatan lain yang dilakukan oleh Kantor Pegadaian adalah melakukan pelelangan terhadap jaminan yang tidak dilunasi, yaitu sebesar 5.137 unit dengan nilai lelang sebesar 3.006.697 juta rupiah.
Salah satu Kegiatan lembaga keuangan lainnya yang ada di Kota Malang adalah koperasi. Jumlah koperasi yang ada di Kota Malang sebanyak 638 buah. Jumlah anggota koperasi adalah 105.263 orang.
b.harga – harga
Harga yang secara rutin dipantau oleh BPS Kota Malang adalah harga ditingkat konsumen Untuk mengetahui gambaran perkembangan harga beberapa jenis barang / jasa yang terjadi telah dibuatkan satu indikator yaitu indeks harga konsumen (IHK). Tahun yang dipergunakan dasar untuk penghitungan Indeks Harga Konsumen adalah tahun 2000 .
Secara umum indeks harga konsumen selama tahun 2007 dari bulan kebulan cenderung naik, hal ini terlihat dari Gambar 9.1. Indeks Harga Konsumen pada bulan Januari sebesar 143,24 sampai dengan bulan Desember mencapai 150,57. Untuk mengetahui seberapa besar perubahan harga yang terjadi, yang biasa dengan inflasi. Besaran inflasi per bulan secara umum terlihat pada Gambar 9.2. Perubahan kenaikan harga tertinggi terjadi pada bulan September yaitu sebesar 1,03 persen. Sedangkan penurunan harga terendah terjadi pada Bulan Juni sebesar -0.13 persen. Secara keseluruhan perubahan harga yang terjadi selama tahun 2007 mencapai 5,93 persen. Untuk mengetahui lebih rinci masalah harga dapat dilihat di Tabel 9.5.4.
9 Produk Domestic Regional Bruto (PDRB)
Salah satu cara untuk mengetahui kinerja dari suatu wilayah antara lain dengan melihat seberapa besar nilai tambah yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi yang ada di suatu wilayah. Besaran nilai tambah yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi tersebut umumnya disebut dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Penghitungan besaran PDRB tersebut dapat dihitung dengan tiga pendekatan yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Dari ketiga pendekatan tersebut yang dapat disajikan dalam buku ini sebatas PDRB dari pendekatan produksi.
Berdasarkan pendekatan produksi, dari seluruh faktor produksi yang ada dikelompokkan ke dalam sembilan sektor, dimana faktor produksi tersebut dinilai berdasarkan atas harga tahun berjalan /berlaku dan atas harga dasar pada tahun dasar (konstan) tertentu. Tahun yang dipergunakan sebagai tahun dasar penghitungan adalah tahun 2000.
Dari hasil penghitungan, besaran nominal PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 sebesar 20.543.001,92 (Juta Rp), sedangkan atas dasar harga konstan sebesar 11.380.769,63 (juta Rp). Sektor yang memberikan andil yang cukup signifikan secara berurutan adalah Sektor Industri Pengolahan; Perdagangan, Hotel dan Restoran; Jasa-jasa; Keuangan, persewaan dan Jasa Perusahaan; Angkutan dan Komunikasi. Salah satu indikator lain yang dapat menggambarkan kemajuan suatu wilayah adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dihitung dari perubahan PDRB atas dasar harga konstan, dimana keadaan ini dapat menggambarkan kenaikan jumlah produksi dengan menghilangkan faktor perubahan harga. Pertumbuhan ekonomi Kota Malang pada tahun 2007 adalah 5,98 persen. Sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi antara lain sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan (7,12 persen); Perdagangan, Hotel dan Restoran (6,68 persen); Bangunan (0,28); Jasa-jasa (5,79 persen); Industri Pengolahan (5,41) Angkutan dan Komunikasi (4,0) dan Listrik, Gas dan Air Bersih (3,54).













BAB III
STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH
A.Pendekatan ( Landasan Teori)
Kendati telah disadari pembangunan perekonomian yang kokoh, kesejahteraan social masyarakat dan meminimalkan kemiskinan merupakan prioritas utama pembangunan daerah Kota Malang. Tetapi, untuk merealisasikan visi dan misi yang telah ditetapkan ini harus diakui bukanlah hal yang mudah, dan sebaliknya merupakan tantangan yang berat dan membutuhkan dukungan dari seluruh pelaku pembangunan, masyarakat, pemerintah daerah, swasta dan seluruh stakeholders.
Persoalan memajukan perekonomian rakyat yang tangguh, membangun kesejahteraal social masyarakat dan meminimalkan kemiskinan sesungguhnya adalah permasalahan social yang jauh lebih kompleks dari sekedar persoalan kekurangan pendapatan atau tidak dimilikinya asset produksi untuk melangsungkan kehidupan. Kemiskinan yang masih membelenggu sebagian masyarakat Kota Malang, selain berkaitan dengan ketidakmampuan sebuah keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan tidak dimilikinya asset produksi dan pekerjaan yang layak, juga menyangkut kerentanan, ketidakberdayaan, keterisolasian dan kelemahan jasmani.
Yang dimaksud kerentanan disini, dapat dilihat dari ketidakmampuan keluarga miskin untuk menyediakan sesuatu guna menghadapi situasi darurat seperti datangnya bencana alam, kegagalan panen, atau penyakit yang tiba-tiba menimpa keluarga miskin itu. Kerentanan ini sering menimbulkan poverty rackets atau “roda penggerak kemiskinan” yang menyebabkan keluarga miskin harus menjual harta benda dan asset produksinya sehingga mereka menjadi makin rentan dan tidak berdaya. Sementara itu, ketidakberdayaan keluarga miskin salah satunya tercermin dalam kasus dimana elit desa dengan seenaknya memfungsikan diri sebagai oknum yang menjaring bantuan yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang miskin. Ketidakberdayaan keluarga miskin di kesempatan yang lain mungkin dimanifestasikan dalam hal seringnya keluarga miskin ditipu dan ditekan oleh orang yang memiliki kekuasaan. Ketidakberdayaan sering pula mengakibatkan terjadinya bias bantuan terhadap si miskin kepada kelas di atasnya yang seharusnya tidak memperoleh subsidi.
Seseorang sebuah keluarga yang miskin seringkali mampu tetap survive dan bahkan bangkit kembali terutama bila mereka memiliki jaringan atau pranata social yang melindungi dan menyelamatkan. Tetapi, seseorang atau keluarga miskin yang tidak memiliki akses atau networking yang kuat, tidak berdaya, sering sakit, dan jatuh pada lingkaran setan atau perangkap kemiskinan, mereka umumnya sulit untuk bangkit kembali. Seseorang yang dibelit perangkap kemiskinan acapkali tidak bisa ikut menikmati hasil pembangunan dan justru menjadi korban pembangunan, rapuh, tidak atau sulit mengalami peningkatan kualitas kehidupan, dan bahkan acapkali justru mengalami penurunan kualitas kehidupan.
Dewasa ini, terutama pasca kenaikan BBM, harus diakui bahwa kesejahteraan sosial masyarakat di Kota Malang makin sulit diwujudkan dengan segera, selain kondisi perekonomian nasional masih belum sepenuhnya pulih dari imbas situasi krisis, juga karena seringkali diperparah oleh adanya kesenjangan sosial yang terlampau lebar, dan bahkan dalam sejumlah kasus diperparah karena adanya proses marginalisasi.
Pengalaman di masa lalu telah banyak mengajarkan pada kita bahwa, kelemahan dari program pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat adalah bermula dari kebijakan pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi makro, cenderung sentralistik atau terpusat, sehingga tidak peka pada kebutuhan local. Di sisi lain, berbagai program peningkatan kesejahteraan yang dikucurkan acapkali bersifat juga karitatif, dan memposisikan masyarakat sebagai obyek. Dengan memandang persoalan kesejahteraan sosial hanya dari aspek ekonomi saja, maka yang terjadi kemudian permasalahan kemiskinan di berbagai komunitas seringkali dianggap serba sama (uniform) dan diyakini akan dapat dipecahkan semata-mata hanya dengan mengandalkan pemberian bantuan modal usaha.
Telah ditegaskan sebagai komitmen Kepala Daerah terpilih, bahwa saat ini yang dibutuhkan agar program-program peningkatan perekonomian rakyat yang kokoh, peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat dan upaya meminimalkan kemiskinan di Kota Malang dapat memberikan hasil yang nyata, tak pelak adalah bagaimana menggempur akar-akar kemiskinan hingga tuntas (attacking the roots of poverty). Di Kota Malang, agar perkembangan jumlah penduduk miskin bisa dikurangi dan upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat dapat dipercepat, maka yang dibutuhkan ke depan adalah model dan upaya-upaya baru yang terfokus pada proses pemberdayaan ekonomi kerakyatan, pengakuan pada potensi local, dan manajemen program yang benar-benar solid dan akuntabilitas.
1.Permasalahan Pokok
Kalau dicoba dirinci satu per satu sudah barang tentu ada banyak masalah pembangunan yang seharusnya menjadi focus perhatian Pemerintah DaerahKota Malang. Tetapi, untuk kurun waktu lima tahun ke depan (2007-2012), isu atau permasalahan utama yang perlu mendapat perhatian serius Pemerintah Daerah adalah :
BIDANG
PERMASALAHAN
Politik
Secara umum masyarakat belum memiliki akses dan sarana untuk menyalurkan aspirasi secara penuh dan demokratis dalam proses pengambilan keputusan strategis yang menyangkut kepentingan mereka. Di sisi lain, partisipasi politik kaum perempuan masih rendah, oleh karena itu pengarusutamaan gender dalam berbagai segi kehidupan dan kebijakan pembangunan sangat menjadi prioritas.
Sosial
Secara umum masyarakat belum memiliki akses yang memadai terhadap berbagai bentuk pelayanan pendidikan, kesehatan, dan keberdayaan masyarakat.
Ekonomi
Bahwa Kota Malang masih menghadapi permasalahan kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan ekonomi kerakyatan. Permasalahan tersebut sebagai akibat masih kurangnya pembangunan infrastruktur, minimnya informasi peluang kerja yang benar, aman, nyaman, mudah dan murah, baik di dalam maupun luar negeri, program pembangunan yang kurang mengenai sasaran, kurang optimalnya eksplorasi dan eksploitasi SDA, dan masih minimnya infestor yang menanamkan investasi.
Keamanan
Kondisi keamanan dan ketentraman masyarakat harus diakui masih belum benar-benar mantap, sebab potensi pergesekan sosial-politik dan ekonomi yang sifatnya latent masih belum sepenuhnya dapat terselesaikan. Padahal, dalam rangka menjalankan roda pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan harus ada jaminan keamanan yang kondusif bagi penyelenggara. Untuk itu, guna menjamin keamanan yang kondusif harus diciptakan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas dan partisipasi.
Kelembagaan
Perbaikan kinerja kelembagaan sangat diperlukan dalam rangka menjalankan roda pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat yang ditunjang dengan penguatan kapasitas birokrasi di semua tingkat yang bersih dari KKN.

2. Isu Strategis
Secara garis besar, isu strategis yang membutuhkan pemecahan dan penanganan segera di Kota Malang 5 tahun ke depan adalah :
a. Penanggulangan kemiskinan perkotaan;
b. Pemberdayaan ekonomi kerakyatan kota;
c. Pengembangan usaha informal yang mengarah pada peningkatan sumber daya manusia yang profesional;
d. Penguatan basis ekonomi kerakyatan;
e. Ketahanan pangan;
f. Penegakan supremasi hukum dan HAM;
g. Perbaikan prasarana dan sarana pendidikan;
h. Beban pembiayaan pendidikan;
i. Peningkatan keterampilan anak jalanan;
j. Pembinaan PSK;
k. Optimalisasi kapasitas aparatur dan kelembagaan perangkat daerah;
l. Perlindungan bangunan dan kawasan bersejarah;
m. Penanganan genangan air dan kawasan tepi sungai;
n. Penanganan pencemaran air, udara, dan tanah;
o. Penanganan kemacetan lalu lintas kota;
p. Penanganan kawasan timur kota;
q. Penanganan ruang terbuka hijau kota.
B.Skala Prioritas
Dalam kurun waktu lima tahun ke depan agenda program pembangunan yang menjadi prioritas untuk dikembangkan Pemerintah Kota Malang adalah sebagai berikut :
a. Membina kerukunan, kebersamaan dan kerjasama seluruh elemen
dan lapisan masyarakat.
b. Menyelenggarakan upaya pemberdayaan masyarakat dan
pembangunan ekonomi kerakyatan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran berkeadilan sosial.
c. Meningkatkan peran serta masyarakat dan pengusaha melalui
fasilitasi pemerintah kota.
d. Memantapkan kebijakan otonomi daerah secara profesional, rasional dan bertanggungjawab.
e. Menyusun prioritas pembangunan dan mengembangkan programprogran pembangunan strategis.
f. Memantapkan profesionalisme birokrasi pemerintahan berdasarkan prinsip-prinsip good governance, clean government dan reinventing government.
g. Mengembangkan kapasitas daerah melalui pengembangan pegawai, penataan kepegawaian dan pengembangan kelembagaan perangkat daerah.
h. Menyelenggarakan secara konsepsional, sistematis, profesional dan berkelanjutan upaya pemberdayaan masyarakat dan pembangunan ekonomi kerakyatan.
i. Mengembangkan ekonomi kerakyatan berorientasi global, berbasis produk lokal dan mengedepankan keunggulan kompetitif.
j. Meningkatkan akses kesempatan dan peluang berusaha dengan
memperluas informasi pasar kerja dan mengembangkan kualitas
sumber daya tenaga kerja.
k. Memperkuat ketahanan dan keamanan pangan daerah.
l. Mengoptimalisasikan potensi pendapatan asli daerah sendiri.
m. Memantapkan pelaksanaan Otonomi Daerah melalui
peningkatan kualitas kelembagaan perangkat daerah dan aparatur
pemerintah kota.
n. Meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat kota.
o. Meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan sosial
dasar perkotaan.
p. Mengembangkan seni budaya daerah dan olahraga daerah.
q. Meningkatkan kualitas perUndang-Undangan daerah dan
kesadaran hukum masyarakat kota serta penegakan hukum.
C.Strategi Pembangunan Daerah
Strategi pembangunan daerah pada dasarnya adalah kebijakan yang ditetapkan daerah dalam mengimplementasikan program Kepala Daerah sebagai payung atau acuan dalam proses perumusan program dan kegiatan pembangunan di dalam mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan. Untuk kurun waktu 2007-2012, Pemerintah Daerah Kota Malang telah menetapkan strategi yang akan dikembangkan sebagai langkah taktis dan efektif untuk menjamin hasil yang maksimal dari pelaksanaan berbagai program pembangunan yang telah dirumuskan dan akan dilaksanakan di lapangan adalah sebagai berikut :
1.Membangun pertumbuhan ekonomi
Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Pemerintah Kota Malang memfokuskan diri dalam mempercepat pemulihan dan memperkokoh pondasi perekonomian daerah agar terjadi peningkatan dan pertumbuhan ekonomi daerah untuk memacu peningkatan derajat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat pada semua lapisan dan mendorong peningkatan pendapatan asli daerah serta menumbuhkembangkan peranserta aktif masyarakat sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan daerah.
2.Berorientasi pada pemenuhan hak dasar masyarakat
Dengan menyadari sepenuhnya bahwa masyarakat berhak atas layanan kebutuhan dasar, maka lima tahun kedepan Pemerintah Kota Malang akan memfokuskan diri pada upaya perbaikan dan peningkatan kualitas layanan public secara terbuka, adil dan terjangkau serta dapat diakses oleh masyarakat Kota Malang Berbasis pada komunitas dan kearifan lokal
3.Berorientasi pada pemberdayaan masyarakat
Hasil dari proses pemberdayaan adalah beralihnya fungsi individu yang semula obyek menjadi subyek (yang baru). Substansi pemberdayaan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat.
4.Pengembangan program asuransi sosial
Yang dimaksud asuransi sosial disini adalah program pembangunan yang bisa bermanfaat sebagai investasi dan penyangga kebutuhan warga masyarakat dalam jangka lebih panjang.
5.Berpusat pada rakyat
Konsep utama dari pembangunan yang berpusat pada rakyat adalah memandang inisiatif kreatif dari rakyat sebagai sumber daya pembangunan yang utama dan memandang kesejahteraan material dan spiritual mereka sebagai tujuan yang ingin dicapai oleh proses pembangunan. Orientasi pembangunan yang berpusat pada rakyat memiliki tiga dasar pemikiran. Pertama, memusatkan pemikiran dan tindakan kebijaksanaan pemerintah daerah pada penciptaan keadaan-keadaan yang mendorong dan mendukung usaha-usaha rakyat untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan untuk memecahkan masalah mereka sendiri pada tingkat individual, keluarga, dan komunitas. Kedua, mengembangkan struktur organisasi yang berfungsi menurut kaidah-kaidah system swa-organisasi. Ketiga, mengembangkan system-system produksi konsumsi yang diorganisir secara territorial yang berlandaskan pada kaidah pemilikan dan pengendalian lokal.
D.Strategi Jangka Pendek
Setiap Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan kewenangannya selalu dihadapkan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat maupun permasalahan dan pengaruh lingkungan eksternal. Untuk menghadapi hal tersebut, Pemerintah Kota Malang memiliki panduan dalam menentukan masa depan kota dan warganya. Panduan atau pedoman untuk menuju masa depan Kota Malang yang lebih baik dimaksud dijabarkan dalam bentuk visi dan misi, strategi, dan arah kebijakan daerah, serta prioritas daerah.
Rencana Strategis Kota Malang yang menjelaskan tentang Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, sebagai berikut :
1. Visi
“Terwujudnya Kota Malang yang Mandiri, Berbudaya, Sejahtera dan Berwawasan Lingkungan”.
Mandiri berarti bahwa dalam penyelenggaraan otonomi daerah diupayakan mampu dibiayai sendiri melalui optimalisasi penggalian dan pemanfaatan sumber daya alam, sumber daya manusia maupun potensi daerah lainnya.
Berbudaya berarti bahwa pelaksanaan otonomi daerah tetap mengedepankan nilai-nilai Ke-Tuhanan, nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan sosial, nilai-nilai etika dan budi pekerti masyarakat Kota Malang serta nilai-nilai pendidikan.
Sejahtera berarti bahwa keseluruhan pelaksanaan pembangunan yang
dilaksanakan di Kota Malang diarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat kota, baik secara materiil maupun spirituil.
Berwawasan Lingkungan berarti bahwa pelaksanaan pembangunan kota tetap diupayakan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam dan kualitas lingkungan serta permukiman Kota Malang.

E.Startegi Jangka Panjang
Dalam rangka mengakomodasikan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam RPJM Nasional dan RPJMD Propinsi Jawa Timur, maka untuk menjamin adanya kesinambungan pelaksanaan pembangunan antara Pemerintah Pusat, Propinsi, dan Pemerintah Daerah Kota Malang , secara garis besar telah ditetapkan tiga agenda besar pembangunan, sebagai berikut :
1.Menciptakan Kota Malang yang aman dan damai
2.Mewujudkan Kota Malang yang adil dan demokratis
3.Meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Malang
Untuk mewujudkan visi dan agenda pembangunan Kota Malang serta sesuai dengan RPJM Nasional dan RPJMD Propinsi Jawa Timur, secara garis besar, misi pembangunan Kota Malang tahun 2007-2012 adalah sebagai berikut :
1. Mewujudkan Kota Malang sebagai kota pendidikan melalui peningkatan kualitas pendidikan bagi masyarakat miskin perkotaan;
2. Mewujudkan Kota Malang sebagai Kota Sehat melaui peningkatan kualitas kesehatan masyarakat bagi masyarakat kurang mampu dan meningkatkan penghijauan kota;
3. Mewujudkan semangat dan cita-cita reformasi dalam upaya pemulihan ekonomi kota menuju terwujudnya Indonesia Baru berlandaskan pada: negara dengan pondasi sistem kehidupan ekonomi, sosial, budaya yang dijiwai prinsip-prinsip demokrasi kebangsaan dan keadilan sosial dalam ikut serta menertibkan persatuan dan kesatuan serta kerukunan Kota Malang;
4. Mewujudkan tuntutan reformasi dalam tatanan sistem politik pemerintahan dan tatanan paradigma pembangunan berdasarkan pada : wawasan kebangsaan, demokrasi, persatuan dan kesatuan, otonomo daerah, iman dan takwa, budi pekerti, hak asasi manusia dan keadilan sosial;
5. Mewujudkan upaya reformasi melalui pembenahan sistem administrasi publik dan sistem administrasi kebijakan publik, dengan syarat rasa kebersamaan seluruh masyarakat yang pluralistik, persatuan dan kesatuan, kerjasama dan merupakan gerakan masyarakat;
6. Menjadikan tekad mengentaskan kemiskinan menjadi landasan prioritas pembangunan dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa;
7. Mendayagunakan secara optimal potensi penduduk, posisi geografis strategis, dan sumber daya alam yang memadai untuk memajukan masyarakat Kota Malang dan kontribusi maksimal bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar